Beranda > ADA SEMUA, CATATAN > Do’(s)a Sang Guru

Do’(s)a Sang Guru

Rambutnya merah karena pewarna, perawakannya hitam dan kurus kering mungkin terlalu banyak bergadang. Kali ini saya melihat sesosok yang membuat saya berpikir kebelakang tentang masa silam. Inilah kali pertama saya melihat Deni, murid yang baru saya lihat perwujudannya di sekolah ini, melihat Deni seperti saya melihat murid terdahulu yang bernama Slamet. Murid saya yang juga saya dekat, Slamet murid saya sebelum saya mengabdi menjadi guru di sekolah ini.

Mengenai Slamet dan Deni. Ada titik-titik kemiripan pada sudut-sudut tertentu, yang membuat saya senang, bahkan sedih dan takut. Namun dalam kaca mata saya, seperti saya melihat bahwa ada gurat-gurat harapan akan sebuah impian yang bakal jadi kenyataan. Saya punya keinginan dan atau nazar untuk merubah anak-anak yang tersesat agar taubat. Sudah menjadi kodrat umat untuk bermanfaat terhadap umat yang lain. Mungkin ini cara saya, dan biarkan saya berkiprah dengan cara saya sendiri.

Saya tahu, penampilan Deni bukan gambaran dari anak sekolah yang baik dan sebagaimana mestinya. Bukankah kalau tidak ada yang jahat maka tidak akan ada yang baik, kalau tidak ada yang kecil maka tidak akan ada yang besar, dan kalau tidak ada yang gagal maka tidak juga akan ada yang berhasil. Semuanya akan indah berjalan, kalau kita memandang indah dan bijak pada sebuah perbedaan. Deni memang berbeda dengan yang lainnya, tapi itu hanya untuk saat ini saja. Saya beriman bahwa pada waktunya Deni dan Slamet akan memberi saya kabar baik.

Okelah kalau kali ini saya harus bisa menelan pil pahit lagi, inilah sebuah perjalanan hidup. Mereka adalah murid-murid saya, yang nasibnya harus dikeluarkan dari sekolah, kabar ini teramat buruk yang harus saya terima. Meski kasus yang variatif, namun mereka tetap anak saya yang pernah dekat dengan saya. Terlalu banyak kenangan indah yang takan terlupa. Tuhan jangan ambil ingatan saya tentang mereka.

Awalnya saya membenci pada aturan sekolah yang harus mengeluarkan anak didiknya, seakan-akan mereka yang dikeluarkan dari sekolah tidak diberi tempat dan kesempatan lagi untuk bisa mengagapi cita dan impian mereka. Sekolah memang kejam. Tapi itu hanya bagian emosi sesaat saya, yang sedang shock karena mendengar kabar mereka harus dikeluarkan dari sekolah.

Deni maafkan pak guru, pak guru sudah berusaha untuk mempertahankan agar deni diberi kesempatan lagi untuk bisa menimba ilmu dibangku sekolah. Tapi apalah daya, mungkin Tuhan punya cara yang indah untuk Deni, agar kau benar-benar berjalan pada rel Tuhan.

Pak guru memang berdosa, karena hari itu pak guru tidak menjemput Deni untuk berangkat sekolah. Alhasil kamu bangun kesiangankan, tapi kenapa kamu tidak masuk sekolah saja. Sudah tau datang terlambat dan sudah di depan sekolah lagi. Tapi malah pergi entah kemana. Alhasil ketahuan sama guru yang lain, bahwa kamu membolos lagi untuk kesekian kalinya. Jadi kamu dikeluarkan dari sekolah sekarang.

Dan untuk menebus dosa, pak guru meminta dan berdo’a pada yang kuasa, “Ya Allah, maafkan kesalahan dan dosa Deni, berilah dia petunjuk hidup yang Kau ridhoi, jadikanlah Deni anak yang bahagia, sukses dan selamat dunia akhirat, serta bermanfaat untuk umat”.

Saat ini nazar dan impian saya untuk bisa merubah anak yang tersesat menjadi kebanggaan semua umat, belum juga berhasil. Deni dan Slamet mendadak dikeluarkan terlebih dahulu dari sekolah. Inilah catatan dosa dan do’a sang guru. [Subhan-29-01-11].

Categories: ADA SEMUA, CATATAN
  1. Belum ada komentar.
  1. Belum ada trackback.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.