Sujud Dikala Senja
Oleh Subhan
Waktu sangat sombong berputar, begitu cepat merubah waktu dari masa kemasa, diam membisu tak meninggalkan kenangan indah hidup bertuhan dimata Ramdhan, kini tak terasa uban pun mewarnai rambut, sekarang Ramdhan hanya bisa mengenang cerita kecilnya, cerita semasa tinggal di kampung halaman.
Waktu itu, orang tua Ramdhan hanya numpang hidup di rumah eyang kakungnya. Hidup nomaden dari satu saudara ke tempat saudara yang lain. Suasana pedesaan terasa indah untuk dikenang, namun tak seindah cerita hidup Ramdhan dihadapan Tuhan. Hamparan sawah, aliran sungai yang jernih dan permainan tradisional semuanya terngiang indah tak terlupa diingatan.
“Terlalu rumit tuk dilupakan, hingga lebih baik putihnya kertas kosong ku isi dengan tinta-tinta hitam cerita sewaktu kecilku,” itulah tulisan awal Ramdhan pada sebuah kertas yang judul bukunya bertuliskan “Trauma Beragama”, Ramdhan mulai menceritakan kisah hidupnya pada kertas untuk dijadikan buku dan hendak dikirimkan ke penerbit.
***
Saat aku dilahirkan ke dunia ini, orang tuaku yang bernama Ibu Kartiyem dan Bapak Kartono sedang menjalankan ibadah puasa dibulan Ramadhan, maka tak heran kalau mereka menyematkanku sebuah nama yang sangat indah dan islami tentunya. Ramdhan Matalaka itulah nama lengkapku, dan sapa akrabnya adalah Ramdhan, kini semua orang memanggil Ramdhan… Ramdhan padaku.
Entah pertimbangan apa, sehingga orang tuaku memberi nama itu. Mungkin mereka berharap kalau besar nanti aku harus menjadi orang yang berguna bagi agama dan negara. Klasik dan sepertinya ini merupakan harapan dari semua orang tua pada anaknya jika kelak anaknya sudah besar. Tapi bagiku apalah arti sebuah nama jika tidak kita renungkan, bukankah pemberian nama dari orang tua itu adalah doa. Maka tak heran tekad awalku membuat buku ini adalah demi mencerahkan agama dan bangsaku.
Kata Ibu Kartiyem, perempuan yang melahirkanku pernah bercerita padaku, “Ramdhan itu ndak pernah diam, anak bungsu dari delapan bersaudara ini selalu bergerak dan berlari kesana kemari. Dan saat tidur saja ia berhenti berlari” itulah cerita ibuku yang saya kutip sebagai narasi tentang diriku pada sebuah buku perdanaku.
“Otak Ramdhan pintar dan tidak begitu cerdas, ia mempunyai sifat pendendam pula,” sifat-sifat itu yang diturunkan dari Bapak Kartono pada Ramdhan, maka Bapak Kartono sendiri tak begitu mempermasalahkan ketika Ramdhan benci pada bapak yang telah memberinya ibu yang baru. Kini karena Bapaklah Ramdhan mempunyai dua ibu.
“Ini wajib ku tuliskan pada bukuku,” Gumam Ramdhan dalam hati, sebelum menuangkan pada tulisan. “Entah dianggap musibah atau anugerah karena mempunyai dua ibu, bukankan agamaku mengajarkan surga itu di telapak kaki ibu, maka untunglah aku karena mempunyai dua surga. Kalau boleh juga aku berharap punya bapak banyak, yang menggantikan bapakku menjadi imam shalatku ketika bapak sibuk bekerja dan mungkin jika punya banyak bapak, banyak pula yang memberiku uang jajan” Kata Ramdhan sekarang
Sepertinya hampir semua anak kecil tidak suka punya ibu tiri, sosok yang selalu digambarkan dengan karakter jahat dan suka menyiksa anak kecil itu juga masuk pada halusinasi Ramdhan, maka Ramdhan kecil selalu membenci ayahnya, terlebih Ramdhan sangat membenci ibu baru yang merebut bapaknya. “Saat itu ayahnya selalu berkata agama kita tidak melarang punya banyak istri,” dan inilah kali pertama Ramdhan trauma beragama, karena agamalah yang membuat orang tuaku dan keluargaku berpisah.
Keluarga Ramdhan berpisah tercerai berai, empat kakaknya tinggal bersama bapak dan ibu baru, sedangkan sisanya tinggal bersama ibu. Dan Ramdhan ikut bersama ibu, sampai sekarang ibu pun tidak memberikan kita ayah baru, entah alasan apa hingga Ibu Kartiyem betah menjadi dua sosok sekaligus dalam rumah, terkadang ibu menjadi ibu rumah tangga tapi sekaligus mencari nafkah.
Namun ibunya tak pernah mengeluh nestapa, yang ibu Ramadhan katakan selalu ucap syukur pada Sang Maha. “Alhamdulillah, ibu masih diberi kesempatan untuk melihat kalian dewasa. Terutama kamu Dhan, ibu sangat ingin melihatmu jadi seorang Ayah dan suami yang melindungi seorang istri,” itulah yang ibu Kartiyem katakan pada anak bungsunya saat gelap melimuti sekeliling tempat tinggal mereka.
Ramadhan mengerti kenapa ibunya berucap demikian, mungkin itu adalah pesan agar kelak dirinya tidak melakukan tindakan poligami seperti yang dilakukan suaminya, Kartono. “saya sih nda sudi kalau suami minta kawin lagi, daripada harus dipoligami, mending cerai saja!” kata Eli ketika menjawab pertanyaan Ramadhan.
Pertanyaan Ramadhan sebenarnya bukan bermaksud ia punya rencana poligami kalau nanti dia menikah, namun ia ingin mengetahui sedalam apa perasaan wanita saat suaminya minta istri baru. “Hati wanita itu sangat lembut dan halus penuh perasaan, dibalik ketegaran seorang wanita ada kelembutan. Dibalik kelembutan wanita tersimpan ketegaran,” kini Ramadhan mengerti bagaimana sakitnya hati ibu ketika ditinggal ayahnya karena terpikat wanita idaman lain. Perceraian. Dan kami sebagai anak-anak mereka yang akhirnya menanggung derita karena keluarga yang tak utuh.
Hingga dewasa, Ramadhan masih memendam rasa kecewa yang besar pada bapaknya, perihal bapak Kartono tergoda pada paras istri kedua. Entah apa yang ada dalam hati bapaknya tega meninggalkan ibu yang sudah memberinya banyak buah hati itu. Kemudian trauma masa kecil yang menurutnya terlalu banyak aturan dan hukuman.
Trauma masa lalu, ceritanya waktu itu ada lomba adzan di salah satu mushola yang ada di desanya, ketika itu Ramadhan ditunjuk ustadz Imron untuk ikut lomba adzan, mau tidak mau Ramadhan mengikuti lomba itu dan walhasil teman-temannya bukan menjawab setiap kalam Allah, mereka justru serentak mengolok-olok suara Ramadhan yang memang tidak fasih membunyikan lafadz-lafadz adzan, selanjutnya olok demi olokan masih ia terima di lingkungan sekolahnya yaitu ketika sekolah mewajibkan para siswa nya mengenakan kopiah, lagi-lagi Ramadhan tak habis pikir kenapa teman-temannya gemar sekali mempermalukan Ramadhan di muka umum. Ketika ia menanyakan apa salahnya? Mereka malah tambah memberi seruan layaknya koor yang sedang reff.
Belum menemukan jawaban memuaskan, sepulangnya dari sekolah Ramadhan menanyakan hal itu kepada ibunya, dan ibunya hanya menjawab agar bersabar. “jangan lah kau hiraukan omongan orang-orang yang mengolok-olok kita namun tak tahu apa yang mereka olok-olokan. Bahkan tanpa mereka sadari mereka justru lebih memalukan daripada yang kita bayangkan.” Kata-kata ibu sedikit menenangkan perasaan Ramadhan. Meskipun pada kenyataannya Ramadhan masih merasa minder yang agak berlebihan akibat hinaan yang selalu dihunjam teman-teman sekelasnya.
“Ahh.. masa lalu yang cukup memilukan! Kenapa aku harus terus hanyut dalam ketidak percayaan diri? Kenapa hidupku yang sampai senja ini masih takut melakukan ritual yang sebenarnya menyejukan kalbu.”
Dalam gelap, ketika semua orang terlelap dalam mimpi, ia justru terbangun dan membasuh wajah yang mulai keriput. Kemudian dalam remang-remang lampu kamarnya, ia bersujud memohon ampun dan belas kasih Tuhan nya, sujud seorang Ramadhan yang trauma agama. Ia masih saja bersujud. Ternyata sujud yang pertama kali di usia senjanya sekaligus sebagai sujud terakhir dalam sujud rindu pada Tuhan.