Arsip

Archive for the ‘CERPEN’ Category

Inisial ‘S’

S

S

Demi keselamatan nyawa, maka identitas dari wanita yang berinisial ‘s’ saya rahasiakan. Ia hanya wanita biasa, yang punya dua bola mata indah, bibir manis dan merah merona, pipinya mulus dan sedikit tembem, punya satu hidung dengan lubangnya dua, alisnya biasa saja, postur tubuh mungil tidak jangkis bak model, pakainnya seperti orang mau mengaji, kerudunya lebat. Sungguh ia tak ber make up, tidak suka dengan kepalsuan.

Saat Tuhan mempertemukan saya dengan wanita berinisial ‘s’. Alam raya serasa berdendang, dengan melantunkan tangga nada yang indah.  “Apakah itu kamu, yang selama ini saya cari tanpa henti, apakah itu cinta, yang mampu menutup lubang di dalam hati,” sungguh ini lirik lagu yang paling cocok, sebagai musik pengiring saat pertemuan pertama kita berdua.

Namun betapa tololnya saya, ketika beberapa hari kemudian,  saya mendapat sms pertama darinya, saya abaikan sms itu tanpa dibalas. hingga menimbulkan spekulasi tanda tanya besar atas laku lampah saya di mata wanita berinisial ‘s’. Mungkin ia anggap saya laki-laki yang sombong karena tak juga membalas sms, mungkin ia anggap saya laki-laki miskin yang tak mampu membeli pulsa, atau mungkin ia beranggapan kalau saya adalah laki-laki sakit, yang tidak tertarik dengan wanita. Sungguh jahatnya spekulasi. Read more…

Categories: ADA SEMUA, CERPEN

Berita Kehilangan

Taubat

Taubat

Ada kabar, Jafar Sidik sudah taubat setelah kehilangan sesuatu. Kini Jafar rajin sholat dan kembali dekat dengan sang pemilik jagat. Laki-laki pemilik rupa menawan itu, coba bangkit dari bumi ke langit. Kiranya ini akan jadi taubat terakhir. Karena setelah taubat, ia ingin mati. Katanya ia tidak takut mati, ia tidak cari mati, ia juga tidak lupakan mati. Tapi, Jafar rindu mati, rindu bertemu dengan Tuhan. Sebelum mati, Jafar taubat.

Mendengar kabar itu, teman dekat Jafar terbelalak dan langsung memberondong Jafar dengan seribu tanda tanya.

“Ada apa denganmu?” tanya Yusuf Khan, yang mulai merasa heran dengan laku lampah Jafar yang kian hari kian ganjil. Semua ini mengindikasikan ada yang tidak beres dengan jiwa Jafar. Mungkin Jafar sakit saraf, lantaran berita kehilangan yang sudah menderanya. “Sudah, lupakan saja kejadian itu,” saran Yusuf.

“Saya yakin ini skandal Tuhan, skandal yang mulai mendera hidup saya. Tak mungkin juga saya lupa kejadian itu. Meski, setan membuat rasa lupa penghilang rasa sesal. Tuhan memberikan ingatan yang kejam pada saya, sehingga saya tahu arti penyesalan!” napas Jafar tertahan, ketika harus mengingat kejadian kehilangan sesuatu yang paling rahasia dan paling vital dalam hidupnya.

“Apakah kamu yakin dengan keputusanmu, apakah kau yakin Tuhan itu ada?, perlu kau ketahui Tuhan itu tidak ada, atau memang Dia kurang begitu baik hati pada dirimu, entahlah.”

Yusuf kembali menceritakan bagaimana Tuhan sudah berani-beraninya membuat Jafar merasa malu bukan kepayang. Kalau pun Tuhan ada, tentu bukan Tuhan yang sentimental. Read more…

Categories: ADA SEMUA, CERPEN

Do’(s)a Seorang Ayah

9 Desember 2010 Tinggalkan Komentar

Angin memberi kabar dengan patah-patah, tak utuh dan belum tentu kebenarannya. Mataku berkaca-kaca setelah kabar burung itu nangkring ditelinga, kesedihan tiba-tiba mendera dan menimpaku, seketika juga aku terjerembab dalam kubang perasaan berdosa dan bersalah. Orang tua mana yang tidak gundah gulana ketika mendapatkan kabar yang teramat buruk menjatuhi anaknya, yang kini hidup nan jauh disana.
Aku memang pendosa, karena sempat tak mengakui bahwa Slamet itu darah dagingku. kepada Slamet ayah minta Read more…

Categories: ADA SEMUA, CERPEN

Mencari Jalan Pulang

19 Agustus 2010 Tinggalkan Komentar

Ramadhan datang, bulan puasa tiba dan aku mengirim pesan singkat kepada ibuku, “Aku ingin pulang, aku ingin mudik tahun ini”, begitulah pesan yang aku kirim. Mungkin petualanganku cukup sampai disini, kemanapun aku pergi, bersembunyi dimanapun pasti pangkalnya aku merasa letih. Jujur dari hati yang dalam, aku menjerit ingin pulang dan aku harus pulang.

Tiba-tiba ibu langsung menelponku, “Jangan terlalu banyak Read more…

Categories: ADA SEMUA, CERPEN

Pesona Wanita dengan Sudut Istimewa

18 April 2010 Tinggalkan Komentar

Semenjak pertama aku memandang pada sosok yang bertegangan tinggi, hingga membuat sekujur badan tersambar aliran rasa sedahsyat petir yang bergemuruh. Terkadang pula membuat jantung berdegap kencang maju mundur, sekonyong-konyong hendak keluar dari dalam tubuh. Cahayanya pun menyinari pikiran dengan imajinasi yang membuat hilangnya ingatan dan rasa sadar. Sampai kini situasi itu tak pernah berubah, aku masih tetap salah laku lampah ketika bertemu dengan Read more…

Categories: ADA SEMUA, CERPEN

Api yang Berhenti Menyala

4 Januari 2010 Tinggalkan Komentar

Api yang Berhenti Menyala

Oleh Subhan

 

Musik dangdut malam ini suaranya mendayu-dayu, dari kejauhan memang samar-samar terdengar. Berbekal kopi pahit, semua kawan bergadang di tengah malam yang sewajarnya di hiasi mimpi. Semua tubuh asyik bergoyang di iringi irama yang selalu berdendang dan kini hilang dari setengah sadar, tepat di pos ronda komplek perumahan padat penduduk tiga pemuda melakukan rutinitas itu.

Motor-motor berjajaran, api unggun yang berada di sampingnya berkobar menyala-nyala dan tepat di atasnya ayam telanjang di guling-guling berputar-putar dengan dilumuti bumbu yang diracik terlebih dahulu, warnanya mulai menunjukan warna yang siap untuk dilahap, baunya menyebar ke seluruh penjuru menusuk hidung.

“Malam ini kita sarapan ayam bakar,” kata Joe yang baru saja mendapat ayam dari hasil uang patungan dua kawannya yang hadir malam ini.

“Komposisi yang sempurna,” sahut Arya, yang menyebutkan satu persatu  mulai dari musik, kopi, motor, api unggun hingga ayam bakar yang menemani kita semua.

“Habis ini kita langsung beraksikan cuy?,” tanya David pada semua. Menawarkan kegiatan rutinitasnya bermain gitar sambil bernyanyi di malam hari.

Memang tiap malam pemuda dan terkadang juga bapak-bapak di komplek perumahan ini selalu bergadang bergiliran di pos ronda, kegitan ini dilakukan pada awalnya untuk menjaga keamanan warga dari pencuri dan perampokan di malam hari. Tapi yang terjadi sekarang hanyalah pesta pora, setidaknya itulah yang terjadi di pos ronda sekarang. Baju hansip pun kini tidak lagi hijau, tak lagi bisa dibedakan antara penjaga keamanan dengan preman.

Suara gaduh tiap malam selalu terdengar, selalu ada saja keributan yang dilakukan pemuda di pos ronda, musik keras, suara gitar dan nyanyian lantang tak bisa di elakan lagi yang sesekali minuman keras dan main kartu di lakukan pemuda penunggu pos ronda.

Sebenarnya ini mengganggu warga yang sedang beristirahat dari lelahnya bekerja seharian, tapi komplek perumahan ini memang sudah terhindar atau tidak pernah terjadi pencurian dan perampokan di malam hari.

Malam ini memang hanya tiga pemuda saja yang keluar dari sarang, tidak seperti malam-malam biasanya, pos ronda kini sepi, di hari kamis kliwon komplek perumahan seperti mati. Yang terjadi di pos ronda hanya menunggu pagi dengan pesta sederhana.

“Belum pada datang, atau tidak mau datang?, masa cuman kita bertiga saja,” kata Arya yang diselimuti rasa penasaran, dalam hati Arya menunggu kedatangan yang baru.

Bintang bertebaran dalam kepekatan malam, cahayanya menerangi dunia tanpa terkecuali pos ronda di komplek perumahan yang kini tiga pemuda sedang bercanda ria. Bulan pun menampakan bulatan yang utuh, sesekali di tutupi awan malam. Pos ronda kini lengang tak ada yang akan datang.

Ayam bakar lahap-lahap disantap, porsi yang berlebih hingga membuat mata mereka tak kuat lagi dibelalakan. Tak heran jika biasanya satu ayam bakar di santap banyak mulut kini hanya tiga perut saja. Kini tiga pemuda tertidur di pos ronda komplek perumahan.

Pesta sederhana pun kini hening, padahal waktu baru menunjukan berhentinya suara adzan isya dikumandangkan. Entah firasat apa yang hendak terjadi, perbedaan malam ini dengan malam-malam lain yang seperti biasanya begitu kentara dirasa, pesta yang tiap malam meriah kini sepi.

Kegelapan belum juga beranjak berganti, sepertinya pancaran matahari enggan keluar dari peraduan, malam ini terasa lambat berjalan. Lambatnya waktu dalam berputar membuat tiga pemuda kian jauh dalam menyelami dan mengarungi kepekatan mimpi.

Tiga pemuda yang lelap di bangunkan cahaya, sinarnya serupa dengan matahari, panasnya pun tak jauh beda. Kobaran api menyala-nyala membakar pos ronda, hampir saja membakar tubuh tiga pemuda. Joe, Arya dan David langsung cepat menjauh dari kobaran si jago merah yang menghanguskan pos ronda. Rupanya api unggun itu menjalar hingga membuat semuanya merah menyala.

“Panas,” teriak Joe.

“Ayo keluar dari api, tolong kebakaran!” pinta Arya pada semua.

Komplek perumahan yang semula sepi mendadak ramai, semua warga keluar berhamburan sambil berlarian. Teriakan tiga pemuda yang meminta tolong karena ada kebakaran membuat semua pintu rumah terbuka. Bapak, ibu, anak-anak, tua, muda, laki-laki dan perempuan semuanya keluar dari rumah.

Semuanya saling gotong royong untuk memadamkan api, puluhan tangan menjadi satu untuk tujuan yang sama. Sunguh pemandangan yang indah, disaat keadaan mencekam. Tak seperti biasanya kerja sama ini terlihat di komplek perumahan, atau ini hanya situasi tertekan sesaat karena takut api itu menjalar dari satu rumah ke rumah yang lain.

Tiga motor hangus terbakar, pos ronda kini rata dengan tanah, tiga pemuda hanya sedikit mengalami luka bakar yang tak begitu parah. Ketiganya hanya bisa menyesali keadaan yang sudah terjadi, mereka juga harus merelakan sepeda besinya kini hanya seonggok barang rongsok hitam hangus. Arya, Joe dan David kini duduk linglung.

 

Categories: ADA SEMUA, CERPEN

Sujud Dikala Senja

26 September 2009 Tinggalkan Komentar

Sujud Dikala Senja

Oleh Subhan

 

Waktu sangat sombong berputar, begitu cepat merubah waktu dari masa kemasa, diam membisu tak meninggalkan kenangan indah hidup bertuhan dimata Ramdhan, kini tak terasa uban pun mewarnai rambut, sekarang Ramdhan hanya bisa mengenang cerita kecilnya, cerita semasa tinggal di kampung halaman.

Waktu itu, orang tua Ramdhan hanya numpang hidup di rumah eyang kakungnya. Hidup nomaden dari satu saudara ke tempat saudara yang lain. Suasana pedesaan terasa indah untuk dikenang, namun tak seindah cerita hidup Ramdhan dihadapan Tuhan. Hamparan sawah, aliran sungai yang jernih dan permainan tradisional semuanya terngiang indah tak terlupa diingatan.

“Terlalu rumit tuk dilupakan, hingga lebih baik putihnya kertas kosong ku isi dengan tinta-tinta hitam cerita sewaktu kecilku,” itulah tulisan awal Ramdhan pada sebuah kertas  yang judul bukunya bertuliskan “Trauma Beragama”, Ramdhan mulai menceritakan kisah hidupnya pada kertas untuk dijadikan buku dan hendak dikirimkan ke penerbit.

***

Saat aku dilahirkan ke dunia ini, orang tuaku yang bernama Ibu Kartiyem dan Bapak Kartono sedang menjalankan ibadah puasa dibulan Ramadhan, maka tak heran kalau mereka menyematkanku sebuah nama yang sangat indah dan islami tentunya. Ramdhan Matalaka itulah nama lengkapku, dan sapa akrabnya adalah Ramdhan, kini semua orang memanggil Ramdhan… Ramdhan padaku.

Entah pertimbangan apa, sehingga orang tuaku memberi nama itu. Mungkin mereka berharap kalau besar nanti aku harus menjadi orang yang berguna bagi agama dan negara. Klasik dan sepertinya ini merupakan harapan dari semua orang tua pada anaknya jika kelak anaknya sudah besar. Tapi bagiku apalah arti sebuah nama jika tidak kita renungkan, bukankah pemberian nama dari orang tua itu adalah doa. Maka tak heran tekad awalku membuat buku ini adalah demi mencerahkan agama dan bangsaku.

Kata Ibu Kartiyem, perempuan yang melahirkanku pernah bercerita padaku, “Ramdhan itu ndak pernah diam, anak bungsu dari delapan bersaudara ini selalu bergerak dan berlari kesana kemari. Dan saat tidur saja ia berhenti berlari” itulah cerita ibuku yang saya kutip sebagai narasi tentang diriku pada sebuah buku perdanaku.

“Otak Ramdhan pintar dan tidak begitu cerdas, ia mempunyai sifat pendendam pula,” sifat-sifat itu yang diturunkan dari Bapak Kartono pada Ramdhan, maka Bapak Kartono sendiri tak begitu mempermasalahkan ketika Ramdhan benci pada bapak yang telah memberinya ibu yang baru. Kini karena Bapaklah Ramdhan mempunyai dua ibu.

“Ini wajib ku tuliskan pada bukuku,” Gumam Ramdhan dalam hati, sebelum menuangkan pada tulisan. “Entah dianggap musibah atau anugerah karena mempunyai dua ibu, bukankan agamaku mengajarkan surga itu di telapak kaki ibu, maka untunglah aku karena mempunyai dua surga. Kalau boleh juga aku berharap punya bapak banyak, yang menggantikan bapakku menjadi imam shalatku ketika bapak sibuk bekerja dan mungkin jika punya banyak bapak, banyak pula yang memberiku uang jajan” Kata Ramdhan sekarang

Sepertinya hampir semua anak kecil tidak suka punya ibu tiri, sosok yang selalu digambarkan dengan karakter jahat dan suka menyiksa anak kecil itu juga masuk pada halusinasi Ramdhan, maka Ramdhan kecil selalu membenci ayahnya, terlebih Ramdhan sangat membenci ibu baru yang merebut bapaknya. “Saat itu ayahnya selalu berkata agama kita tidak melarang punya banyak istri,” dan inilah kali pertama Ramdhan trauma beragama, karena agamalah yang membuat orang tuaku dan keluargaku berpisah.

Keluarga Ramdhan berpisah tercerai berai, empat kakaknya tinggal bersama bapak dan ibu baru, sedangkan sisanya tinggal bersama ibu. Dan Ramdhan ikut bersama ibu, sampai sekarang ibu pun tidak memberikan kita ayah baru, entah alasan apa hingga Ibu Kartiyem betah menjadi dua sosok sekaligus dalam rumah, terkadang ibu menjadi ibu rumah tangga tapi sekaligus mencari nafkah.

Namun ibunya tak pernah mengeluh nestapa, yang ibu Ramadhan katakan selalu ucap syukur pada Sang Maha. “Alhamdulillah, ibu masih diberi kesempatan untuk melihat kalian dewasa. Terutama kamu Dhan, ibu sangat ingin melihatmu jadi seorang Ayah dan suami yang melindungi seorang istri,” itulah yang ibu Kartiyem katakan pada anak bungsunya saat gelap melimuti sekeliling tempat tinggal mereka.

Ramadhan mengerti kenapa ibunya berucap demikian, mungkin itu adalah pesan agar kelak dirinya tidak melakukan tindakan poligami seperti yang dilakukan suaminya, Kartono. “saya sih nda sudi kalau suami minta kawin lagi, daripada harus dipoligami, mending cerai saja!” kata Eli ketika menjawab pertanyaan Ramadhan.

Pertanyaan Ramadhan sebenarnya bukan bermaksud ia punya rencana poligami kalau nanti dia menikah, namun ia ingin mengetahui sedalam apa perasaan wanita saat suaminya minta istri baru. “Hati wanita itu sangat lembut dan halus penuh perasaan, dibalik ketegaran seorang wanita ada kelembutan. Dibalik kelembutan wanita tersimpan ketegaran,” kini Ramadhan mengerti bagaimana sakitnya hati ibu ketika ditinggal ayahnya karena terpikat wanita idaman lain. Perceraian. Dan kami sebagai anak-anak mereka yang akhirnya menanggung derita karena keluarga yang tak utuh.

Hingga dewasa, Ramadhan masih memendam rasa kecewa yang besar pada bapaknya, perihal bapak Kartono tergoda pada paras istri kedua. Entah apa yang ada dalam hati bapaknya tega meninggalkan ibu yang sudah memberinya banyak buah hati itu. Kemudian trauma masa kecil yang menurutnya terlalu banyak aturan dan hukuman.

Trauma masa lalu, ceritanya waktu itu ada lomba adzan di salah satu mushola yang ada di desanya, ketika itu Ramadhan ditunjuk ustadz Imron untuk ikut lomba adzan, mau tidak mau Ramadhan mengikuti lomba itu dan walhasil teman-temannya bukan menjawab setiap kalam Allah, mereka justru serentak mengolok-olok suara Ramadhan yang memang tidak fasih membunyikan lafadz-lafadz adzan, selanjutnya olok demi olokan masih ia terima di lingkungan sekolahnya yaitu ketika sekolah mewajibkan para siswa nya mengenakan kopiah, lagi-lagi Ramadhan tak habis pikir kenapa teman-temannya gemar sekali mempermalukan Ramadhan di muka umum. Ketika ia menanyakan apa salahnya? Mereka malah tambah memberi seruan layaknya koor yang sedang reff.

Belum menemukan jawaban memuaskan, sepulangnya dari sekolah Ramadhan menanyakan hal itu kepada ibunya, dan ibunya hanya menjawab agar bersabar. “jangan lah kau hiraukan omongan orang-orang yang mengolok-olok kita namun tak tahu apa yang mereka olok-olokan. Bahkan tanpa mereka sadari mereka justru lebih memalukan daripada yang kita bayangkan.” Kata-kata ibu sedikit menenangkan perasaan Ramadhan. Meskipun pada kenyataannya Ramadhan masih merasa minder yang agak berlebihan akibat hinaan yang selalu dihunjam teman-teman sekelasnya.

“Ahh.. masa lalu yang cukup memilukan! Kenapa aku harus terus hanyut dalam ketidak percayaan diri? Kenapa hidupku yang sampai senja ini masih takut melakukan ritual yang sebenarnya menyejukan kalbu.”

Dalam gelap, ketika semua orang terlelap dalam mimpi, ia justru terbangun dan membasuh wajah yang mulai keriput. Kemudian dalam remang-remang lampu kamarnya, ia bersujud memohon ampun dan belas kasih Tuhan nya, sujud seorang Ramadhan yang trauma agama. Ia masih saja bersujud. Ternyata sujud yang pertama kali di usia senjanya sekaligus sebagai sujud terakhir dalam sujud rindu pada Tuhan.

Categories: ADA SEMUA, CERPEN

BINGKAI MIMPI CALON USTADZ

Cerpen:
Bingkai Mimpi Calon Ustadz
Oleh Subhan

Malam ini Aldi bermimpi, dalam kepekatan mimpinya ia menemukan sosok yang remang, wajahnya tersembunyi, rona ria dan agung teduh terpancar dari kejauhan. Sembahyangnya mendadak terusik dan tak khusyuk lagi, Aldi yang mimpi sholat dihadirkan bayang perempuan. Dalam mimpinya Aldi meninggalkan shalatnya dan berlari mengejar seribu bayang itu, ia menembus padang ilalang, tiba-tiba langkahnya terhenti, sujud Aldi pada tanah, ia bersimpuh karena mengejar yang tak pasti. Bayangan itu terbang ke langit.
Tak jua Aldi bangun dari mimpi, kini ia memiliki bunga tidur yang baru. Dalam episode yang baru Aldi bermimpi berada pada suasana Bulan puasa, begitu tulus ia jalani ibadah yang satu ini, ia tak mampu meninggalkan ibadah ini, penghayatannya penuh-penuh ia lakoni. Kabut tiba-tiba melewati pikirian Aldi, pekat menyelimuti matahari pikirannya.
“Tuhan kenapa cuaca tiba-tiba mendung, apakah ini pertanda akan turun hujan?” kata Aldi dalam mimpinya, Aldi tidak sadar sekarang ia berada di alam mimpi, padahal dalam mimpi semuanya hanya sementara yang begitu cepat. Siang hari di alam mimpi tak jauh berbeda dengan siang hari di dunia nyata, karena mimpi adalah gambaran dari kehidupan sebenarnya.
“Kalau mendung pasti turun hujan, maka sakit pasti mati, bekerja pasti kaya, beribadah pasti masuk surga,” sahut sosok yang tak jelas, namanya juga mimpi Aldi, yang tak biasa jadi mungkin.
Kini ceritanya tambah rumit, Aldi yang sedang berpuasa, malah bergandengan tangan dengan sosok yang remang, tangannya saling berpegangan, mengepal sekejam-kejamnya. Mereka pergi ke tujuan yang tak tertuju, siang yang tertutup kabut, mereka jalani berdua, untuk saat itu dunia sudah dipesan mereka.
Kemesraan tak terbendung, walau seraut wajah sosok perempuan itu masih remang, Aldi kasmaran, perasaan yang sarat dengan cinta, panasnyapun menggelora, cinta kasih sejati kadang datang tak terduga, dalam mimpi Aldi berkuasa, cumbu rayu kian serasa nyata dalam kisah mimpi Aldi.
Si cantik remang mengajak Aldi makan, perasaan tak bisa di elak, lahap-lahap Aldi menyantap yang terhidang di meja restoran. Saat itu ia dalam keadaan sadar sedang menahan diri dari puasa. Rupanya Aldi adalah orang bodoh yang selalu memuja apa yang tak dipahaminya.
“Ijinkanlah ku kecup keningmu, tapi bukan di dalam angan,” kata si cantik remang yang mulai bosan bercumbu dengan bayang-bayang.
“Tidak sewajarnya kau lakukan itu, bila kau izinkan biar aku yang lakukan itu padamu” kata Aldi yang berhasrat menyibak keremangan si cantik, Aldi juga mulai bosan bahkan penasaran dengan raut wajah itu. Takut ia bukan manusia sewajarnya, dan Aldi belum juga paham bahwa ia kini sedang berada di alam mimpi, baginya cerita ini adalah nyata.
Si remang membalas dengan senyuman, walau tersenyum tapi samar-samar wajah itu di mata Aldi, spontan Aldi mengerutkan keningnya, ia memberikan tanda wajah yang penuh tanya. Tubuhnya yang gempal langsung di kedepankan, mukanya penuh harap, tangannya siap berancang-ancang menyibak keremangan, walau bibirnya hendak mengecup kening. Tapi, tangan sudah mendahului gerak bibir.
Aldi tidak bisa menghilangkan perasaan cemas, penasaran dan jantung yang berdebar kian diperlihatkan secara berlebih, ia hanya berharap bahwa si remang memang manusia sewajarnya yang punya muka, dengan dua mata, satu hidung dan bibir yang mempesona. Lagi-lagi Aldi tegang, semuanya mengencang, tau apa yang terjadi, tiba-tiba si remang menghilang dari hadapan, lagi-lagi si remang pergi ke atas langit.
Aldi mulai penasaran, ia ingin pergi ke langit, ia berharap di sana ada jawaban dari hati dan pikiran yang masih penuh tanda tanya. Dalam mimpi, Aldi seperti terbang menembus awan menuju langit, lagi-lagi kisahnya mulai rumit, alurnya melebar ia tidak sadar sedang berada di alam bawah sadar.
Dalam pesawat Aldi riang, kini ia berada di atas bumi, sesuatu yang tak terduga sebelumnya bahwa ia akan pergi ke langit dengan pesawat. Tak berselang lama pesawat yang ditumpangi lepas landas, sesampai ia membuka jendela dunia yang baru, kini ia terpaku menatap yang baru. Niatnya berubah, tanah suci di depan mata. Aldi kini melakukan ibadah haji. Namanya juga mimpi, ceritanya sering berubah tanpa arah.
Saat itu. Alam semesta, matahri, bintang dan rembulan semua datang sujud buat-Mu, berharap ridho-Mu tak terkecuali dengan kedatangan Aldi. Ia percaya ini adalah panggilan Tuhan, maka tak heran ia pun menjalani ibadah yang istimewa dengan kepercayaan bahwa aku percaya, tuhan tidak bisa dijelaksan melalui nalar karena tuhan adalah kata kerja, bukan kata benda.
Gugusan hari-hari telah dilewati, Aldi mulai khusyuk dengan ibadah. Tapi, belum sempat semua ibadah di jalankan dengan kesempurnaan, si remang hadir kembali. Hati dan pikiran mulai goyah, bujuk rayu si remang membuat Aldi mabuk kepayang. Saat hasrat hadir di beranda, cinta kabur lewat jendela. Seperti halnya batuk cinta tak bisa disembunyikan, sehingga Aldi menerima tawaran si remang untuk pergi keliling dunia.
“Maukah kamu ikut denganku untuk berkeliling dunia?” tawar si cantik remang pada Aldi dengan kemesraan khas perempuan yang selalu membuat semua laki-laki seluruh dunia tergoda.
“Jika kau yang mengajak, tentu mau yang akan ku jawab, apalagi keliling dunia lebih asyik jika di temani dengan sosok yang membuat laki-laki penasaran, tak terkecuali denganku yang penasaran padamu. Toh mengelilingi dunia lebih untung dari pada berdiam di tanah suci saja” kata Aldi tanpa pikir panjang dan berulang.
Terbang berdua dengan si cantik remang, Aldi merasa senang. Sukma mereka melayang-layang di atas langit dan mendarat di suatu tempat yang sempit. Landas yang tak sempurna sehingga membuat mereka terpisah. Namanya juga mimpi yang tak mungkin bisa jadi bisa, dan saat itu Aldi belum juga sadar dari mimpinya, sehingga membuat ceritanya kian panjang, lebar dan tinggi. Seluas langit dari alam semesta.
***
Terdampar di hutan belantara. Benturan dan hempasan yang keras tapi tak membuat tubuhnya tampak lemas dan luka. Aldi tak sadar kini ia berada di alam mimpi. Ia hanya bisa melanjutkan kisah hidupnya yang belum mencapai batas kesempurnaan. Walau ia sudah mengerti hitam dan merah jalan hidup ini, ia tidak sadar dan hanya bisa gemetar.
Gemetar Aldi, karena tidak ingin ia terdampar di hutan belantara. Tapi, karena Aldi mempunyai keinginan yang besar sehingga tercapailah mimpinya itu, Aldi percaya jika kita yakin maka akan tercapai cita-cita, dan ini adalah mimpi dalam mimpi, karena sekarang Aldi berubah menjadi orang kaya raya dengan harta melimpah, tinggal di tengah kota dengan istana yang megah. Aldi pun percaya bahwa ini adalah kehidupan nyata bukan bunga tidur.
Hari-hari Aldi di lalui sebagai orang kaya dengan harta yang melimpah. Dan saat keliling kota dengan mobil mewah, Aldi tertusuk matanya dengan tatapan seorang wanita dari jarak kejauhan. Tanpa pikir panjang ia mendekati wanita yang duduk di trotoar jalan. Pakaian wanita itu compang-camping, mukanya remang-remang dengan debu yang tebal menempel tak beraturan.
“Sepertinya pernah kulihat seraut wajah sosok itu. Tapi, dimana dan kapan,” kata Aldi yang pikirannya dilumuri dengan penuh tanda tanya.
Wajahnya dihiasi senyum tak berarti, legam tersengat terik matahari, keperkasaannya telah memudar ini terlihat dari garis-gais dimukanya, ia tinggal punya jiwa, tangan dan kaki tidak tampak di permukaan, keringat bercucuran. Dalam hati Aldi mengira, sepertinya ia hanya pura-pura menjadi orang yang tak punya untuk mendapatkan rizki dan harta dari orang yang merasa iba dengannya.
Dengan penasaran Aldi mendekati.
“Ini, harap kau terima zakat ini,” Aldi menyodorkan bungkusan yang didalamnya berisi uang, uang zakat yang hendak diberikan pada sosok yang misterius.
“Buanglah saja hartamu yang memang belum pantas kau zakatkan, dan sepertinya kita pernah ketemu,” kata sosok kumal yang mukanya remang-remang.
“Kenapa kau tolak zakatku, dan Kupikir juga begitu, tapi dimana dan kapan kita pernah bersua,” kata Aldi.
“Lupakan,” katanya.
“Kenapa?, tidak baik kita melupakan masa lalu. Sebagai manusia kita mesti belajar dari masa lalu,” timpal Aldi.
Semuanya diam, uang masih juga di tangan Aldi, dan ketika uang itu hendak di kasih ke tangan sosok yang penasaran, Aldi mulai tertarik dengan seraut wajah yang penuh tanda tanya. “Mungkin kau yang selama ini kucari,” kata Aldi dilanjutkan tawaran yang membuat dunia tercengang.
“Maukah kau menemani hidupku?” tawar Aldi.
Perempuan itu memberikan syarat yang tak logis, “Lupakan dan tinggalkan agamamu, jika kau hendak memilikiku.” Katanya.
Perempuan memang paling pintar membuat anti-klimaks. Aldi mulai ingat bahwa kau pernah membuatku lari saat khusyuknya shalat, kau yang membatalkan puasaku, kau juga yang membuatku pergi meninggalkan tanah suci untuk keliling dunia, dan sekarang kau menolak zakat ditambah dengan menyuruhku meninggalkan agamaku.
Aldi menyepakati syarat itu demi sesuatu yang remang-remang dan tak pasti. Langsung saja bumi menjadi panas, matahari pun sangat terik sekali dalam kisah mimpi, Aldi terbakar kepanasan, sepertinya setetes percikan api neraka menempel di tubuhnya.
Aldi terjaga dari mimpinya. Karena cahaya matahari yang panas menyembul dari jendela kamarnya dan menjuru ke arah tubuhnya. Dan setelah mimpi itu, kini Aldi kian dekat dengan agamanya dan baginya “Begitu banyak jalan menuju Tuhan, orang tuaku, saudaraku, anak-anakku, teman-temanku, kuharap jalanmu tidak terlalu sulit. Saat keyakinan musnah, kehormatan menghilang, hancurlah manusia” Aldi menuliskan kisah-kisah mimpinya pada sebuah blog dengan ending tulisan yang selalu dibumbui kata-kata yang sama “Semoga mimpi itu kau alami saat kau tidur hari ini”.

Categories: ADA SEMUA, CERPEN

kembali ke titik nol

Aku dan Titik Nol
Oleh Subhan

Menyibak kelopak pagi, suara adzan subuh sayup-sayup terdengar dari kejauhan, menabuh genderang kesadaran penghuni bumi. Ada yang beranjak dari tempat tidur dan segera shalat subuh, dilanjutkan bergegas menggeser mimpi indah dengan rutinitas keseharian yang sibuk. Ada yang tetap meringkuk dibawah selimut, ingin lebih lama berimajinasi dengan bualan-bualan mimpi.
Kali ini rutinitasku termasuk pilihan yang kedua, yaitu tetap meringkuk. Tidak terasa dan tak diduga, sepekan berlalu duniaku mendadak berubah, hitam pekat tak berwarna. Ingin rasanya aku mewarnai duniaku lagi. Tapi, keluar dari kegelapan dan menemukan cahaya bukanlah proses yang mudah. Karena kehidupan tak lain hanyalah jeda-jeda gelap-terang yang aneh dari layar kaca Tuhan.
“Diluar sudah terang, belum ingin bangun, aku tidak berani menghadapi jalannya kehidupan” kata ku dalam hati. Kini benar adanya bahwa dunia adalah komedi bagi yang memikirkannya, dan tragedi bagi yang merasakannya. Sepi sendiri, duniaku dipagi ini tiada yang membuatku berhadapan dengan kesibukan. Hampa terasa hidup yang kujalani. Ingin rasanya aku berlari, tapi kemana, tanpa arah, tanpa tujuan. Linglung kini yang ku rasa. Sepekan berlalu, aku jadi malu.
Jam digital mengukir angka tujuh lebih tujuh di atas meja belajar. Buku-buku sekolah masih tetap rapih berjajar. Tepat diatasnya menempel bingkai hitam indah ditembok yang putih, ekspresinya senyum maksimal, aku dalam bingkai sedang memamerkan ketampanannya ke segala penjuru, berbeda dengan ekspresiku sekarang, linglung dan bingung.
Bingung hendak melakukan apa. Akhirnya aku turun dari kasur, berjalan ke arah jendela dan kubuka dunia, “Ganjil rasanya duniaku setelah lulus sekolah,” Kataku dengan lantang menantang karena sudah menang melewati Ujian Nasional yang fenomenal. Memang resmi minggu lalu aku baca surat tanda lulus. Sorak-sorai kegembiraan saat itu, masih jelas ingatan meraung-raung didalam kepala saat memori kebahagiaan itu ku putar.
Dunia berubah dan memang harus berubah, dunia berputar dan memang harus berputar, dunia bergerak dan memang harus bergerak. “Demi Tuhan, aku bingung, apa yang harus ku lakukan, tolong aku… Apa yang harus aku rubah, apa yang harus aku putar dan apa yang harus aku gerakan.” Kataku dan pintaku.
Sebelas menit berlalu aku hanya merenung melamun, ingin rasanya aku keluar kamar, tapi hendak kemana dan mau apa. Bagi kebanyakan orang, tidak ada yang lebih merepotkan daripada berpikir. Tapi apa yang harus dipikirkan, sepekan berlalu aku hanya memikirkan nasibku, memikirkan masa depanku setelah bangku sekolah selesai saya tempuh. Tapi, kini aku jadi malu.
Hasrat ingin pergi ke kamar mandi. Tapi, tak kuat rasanya jika harus menjawab pertanyaan keluarga nanti. Bingung jika nanti ayah bertanya, setelah ini mau kemana nduk?. Tidak ingin rasanya pertanyaan itu harus ku dengar dalam waktu dekat ini. Ingin juga aku langkahkan kakiku ke dapur mengambil sarapan pagi. Tapi, cepat-cepat kuurungkan niatku yang satu ini. Takut ibu bertanya, sarapan yang banyak, lalu cepat-cepat pergi kerja. Setidaknya aku takut dengan pernyataan itu, “Andaikan saja orang tuaku kaya aku akan lanjut ke bangku kuliah, tapi apalah dunia, aku dilahirkan tanpa harta, hidup susah, ingin rasanya aku merubah nasib, tapi waktu belum menunjukan keberuntungan.” Kataku.
Kuputuskan lebih baik tetap berada di dalam kamar, kututup rapat-rapat pintu, dan cepat-cepat ku kunci. Pagi yang cerah, terpaksa ku buat jadi gelap kelabu. Kini perasaanku mendadak takut, takut dunia akan mempertawakanku. Walau sebenarnya hal yang harus kita takuti adalah rasa takut itu sendiri. Tapi, rasa tidak bisa bohong, takut sudah terlanjur menyelimuti, kini perasaan itu menerjang tak tertahankan. Sekali lagi aku linglung, aku bingung, kini aku hanya melamun.
Sudah lima menit berlalu, waktu terus berjalan. Kucari sesuatu yang mampu mengisi hidup ini, kumenanti jawaban apa yang dikatkan oleh hati, diam disini atau ikut berlari. Terpaksa aku mencintai rutinitas ini, setengah hatiku jalani hidup ini karena aku tak suka duniaku seperti ini. Sekali lagi aku jadi malu.
Memori ingatan berputar kebelakang, alam pikirku membuka kenangan suka duka yang mendadak menari-nari dikepalaku. Sepotong masa laluku menggumpal, aku mengenang saat bersama teman-teman semasa masih mengenakan seragam putih abu-abu, seragam yang kini sudah berwarna-warni dengan cat pilok dan sudah kupajang di tembok.
“Ayo kita warnai seragam ini,” pinta Calung, teman karibku kepada semua siswa sebagai tanda kebahagiaan kita karena SMA kita berhasil lulus Ujian Nasional seratus persen tahun ini, dengan hasil yang bagus pula.
Semuanya tersenyum tak terbendung dan membisu. Maklum, perasaan saat itu cemas tak tentu, apakah termasuk golongan haru bahagia karena lulus, atau harus mendadak pura-pura pingsan karena tak lulus ujian. Pengumuman hasil Ujian Nasional memang episode yang menegangkan, tiga tahun menimba ilmu dibangku sekolah di akhiri dengan perasaan tegang.
Waktu itu seragam kita tak lagi putih abu-abu. Belajar tiap waktu dan doa yang tiada henti, sudah terganti dengan kebahagiaan yang kini diraih.
Ingin rasannya aku menghubungi Bapak Mulyana, Guru BP di sekolahku, ingin menanyakan apakah aku berhasil mendapat beasiswa untuk kuliah di Bandung. Ku cari nama Bapak Mulyana di memori hand phone-ku, akhirnya ketemu dan langsung kuhubungi. Tapi, suara operator yang terdengar dan berkomentar “Maaf pulsa anda tidak mencukupi untuk melakukan panggilan ini, segeralah melakukan pengisian pulsa dan pulsa anda sekarang adalah nol rupiah.”
Benci rasanya aku mendengar angka itu, dan langsung ku akhiri panggilan yang tak terhubung. Lalu aku berlalu ke rak buku dan meja belajarku. Kini ada yang baru terpajang rapih dengan nilai yang memuaskan, Ijazah dan Surat Keterangan Hasil Ujian (SKHU) menambah deretan sertifikat dan piagam yang sudah kuraih.
Ku pandangi nilai satu persatu, adakah nilaiku yang mendadak berubah, “Bisa gawat darurat kalau nilaiku berganti sendiri,” kataku dalam hati yang tak ingin nilai hasil ujian mendadak berubah, maklum inilah satu-satunya jalan yang mengantarkanku ke bangku kuliah jika nilaiku tetap tinggi. Sekolahku memang mengadakan sayembara beasiswa kuliah.
Waktu itu, saat upacara Senin pagi dalam sambutannya Kepala Sekolah berkata “Bagi anak-anak didik yang bapak sayangi, belajarlah dengan giat dan berdoalah selalu, karena Ujian Nasional adalah ujian yang harus kalian hadapi, dan bagi siswa-siswi yang mendapatkan nilai tertinggi di sekolah ini, maka pihak sekolah berjanji akan memberikan beasiswa secara penuh untuk melanjutkan kuliah sampai menjadi sarjana.”
Bapak Mulyana pun berkata padaku “Ayolah kamu belajar dengan tekun dan jangan lupa berdoa, bapak harap kamu yang mendapatkan sayembara itu, bapak juga tahu kamu terobsesi untuk kuliah,” kata Bapak Mulyana padaku.
“Hati berkata dan alam bertutur padaku, aku memang harus mendapatkan beasiswa ini,” kataku pada Pak Mul sapaan akrabnya di sekolah.
“Usahalah,” katanya.
Aku memang sepaham dengan Pak Mul, tak heran kami sangat akrab dan sering bincang panjang lebar. Pak Mul memang menjunjung sistem pendidikan sekarang, beliau mendukung pemerintah yang sudah merealisasikan anggaran 20 persen untuk pendidikan dan mengadakan pendidikan gratis hingga SMA. Tapi Pak Mul hanyalah manusia biasa, yang tidak pernah merasa puas, karena beliau juga menginginkan pendidikan gratis untuk perguruan tinggi. Dan bukan di komersilkan atau bisa dibilang beliau menentang keras Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan (BHP) yang membuat kampus jadi matre.
Aku limbung, kutarik napas panjang-panjang. Dalam kesendirian aku yang sedang terjerembab dengan khayalan menjadi mahasiswa mendadak buyar. Imajinasiku berterbangan. ku rasakan Hand Phone-ku bergetar dan bernyanyi dengan nada monophonic.
Calung memanggil…, dan langsung terdengar teriakan hore… hore… saat ku terima panggilan.
“Ada apa Cal?, kenapa kamu teriak-teeriak” tanyaku polos.
“Aku dihubungi Pak Mul, katanya akulah yang mendapatkan beasiswa untuk kuliah di Bandung.”
“Apa?” kataku penuh heran. “Syukurlah” lanjutku.
“Tapi..” belum sempat Calung meneruskan perkataannya, sambungan tiba-tiba ku putus dengan sengaja.
“Tak sanggup aku mendengarnya, aku memang belum belajar mendengarkan” kataku sambil mengakhiri panggilan.
Terbuang aku hilang, terbiasnya harapan. terjatuh aku dalam keindahan penantian, terucap keraguan hati yang bimbang, kepastian kuliah aku hilang. “Sepertinya aku berada di titik nol, menjadi pengangguran,” gumamku dalam kamar.
Aku terdiam menangis, sendirian. Aku berada di titik nol dan inilah pekan pertama saya menjadi pengangguran. Lima jam aku tertidur dan aku terbangun di kala matahari mulai menghilang untuk kembali ke peraduannya, saat ketukan pintu kamar mulai kencang di ketuk dari luar.
“Nduk, Bangun! Ada Bapak Mulyana di depan, cepatlah kau temui” teriak Ibu.
Langsung saja cepat-cepat ku temui Pak Mul, “Ada apa ya Pak?, tidak biasanya Pak Mul datang ke rumah,” tanyaku.
“Bapak atas nama sekolah mau mengucapkan permintaan maaf yang sebesar-besarnya pada kamu,” kata Pak Mul.
“Aku udah tahu, tadi Calung menghubungiku. Aku udah ikhlas kalau Calung yang mendapatkan beasiswa untuk kuliah di Bandung,” cetusku.
“Tapi,…” belum lagi Pak Mul selesai bicara sudah ku potong, untuk kesekian kalinya aku memang belum bisa belajar mendengarkan perkataan orang lain “Pak aku sudah ikhlas, jadi aku mohon bapak jangan mengungkitnya lagi,” pintaku pada Pak Mul.
“Syukurlah kalau kamu sudah ikhlas, bapak harap kamu juga bisa ikhlas menerima kenyataan kalau kamu sebenarnya tidak lulus Ujian Nasional. Terjadi kesalahan dalam input data di pusat dan hari ini sekolah baru mendapat kabar dan 20 siswa tidak lulus Ujian Nasional.”
Dalam diam, aku hanya bisa tercengang.

Categories: ADA SEMUA, CERPEN

SUDAH MATI

Sudah Mati
Oleh Subhan

Hari ini pukul 10, dosen belum juga datang dan kupastikan dosen ini bolos lagi untuk kesekian kalinya. 1 jam kami menunggu akhirnya semua sepakat dan berteriak bubar! Aku tertawa dan kecewa mendengarnya. ”Tidak apa-apa! Saya ikhlas ya Allah. Tapi, jauh-jauh datang ke kampus bukan untuk mendengar teriakan ini,” gumamku dalam hati.
Seketika semuanya hilang untuk pulang. Memang, hari ini hanya ada 1 mata kuliah. Dan sepanjang jalan menuju gerbang untuk keluar, tampak Apip kawan lamaku.
”Sekarang ente mau kemana…!? tanya apip sambil menjabat tanganku dengan keras, keras sekali!.
”Mau ke Mitra Dialog,” Jawabku. aku mau mengirim tulisan dan kali ini tulisanku membahas pendidikan yang telah kehilangan ruhnya sebagai jembatan transformasi sosial, akibat carut marutnya malpraktek yang dilakukan oleh penguasa dan praktisi pendidkan dilapangan. Paparku pada Apip.
Apip gelisah dan berkata,”Apa gunanya semua yang kamu lakukan ini, kamu selalu dan sering menulis, melakukan kritik kepada sistem pendidkan. Tapi, kritikan-kritikan kamu tidak mengubah keadaan. Jadi apa sebenarnya yang kamu lakukan?. ”kamu hanya mendapat uang saja! Sambil tersenyum dan Apip berkata. ”Ya.., sudahlah hati-hati dijalan dan ingatlah kematian kawan!”.
Kutinggalkan Apip dan langsung bergegas naik angkot, bahkan aku belum sempat mengucapkan terima kasih padanya. ”Oh…apip! kawan lamaku, aku ingat sebelum masuk STAIN ini, kita satu Bimtes (Bimbingan Tes)”. Sesudahnya juga kamu sering main kerumahku begitu juga sebaliknya aku dan terakhir kita bertemu sebelum pertemuan tadi aku masih mengingatnya.
3 bulan lalu didepan ruang 13, aku menghampiri kamu yang sedang membuka kamus inggris milikmu, padahal waktu itu libur panjang semester genap.
”Kamu hari libur gini ngapain buka-buka kamus disini Pip?”. Tanyaku.
”Lagi ikut semester pendek bos!”. jawabnya
”Masa sih ikut semester pendek. Yang panjang saja tidak bermutu, mau ikut yang pendek!” jelas saya sambil merangkul pundak Apip.
”Yah…gimana ya, tapi….!”
”O..ya! kamu kan sering nulis, angkat dong masalah semester pendek ini!”. Gumam Apip.
”Emang ada masalah apa?”. Tanyaku.
”Masa sih, semester pendek di STAIN hanya disuruh buat makalah doang! Udah bayarnya mahal, dosennya juga hanya mau masuk sekali!”.
”Betapa tak menariknya sistem pendidikan sekarang”.
***
Mendadak aku mengerti pentingnya sebuah pendidikan.
Kepada Apip, aku berjanji sepulang dari Mitra Dialog aku akan membuat catatan tentang sisitem pendidikan tinggi yang nyaris kehilangan NYAWANYA. ”walaupun sekaranag aku bukan penulis kenamaan dan baru dikatakan penulis kecil-kecilan dan karena kecilnya kecil sekali sampai tidak kelihatan! Tapi mungkin nanti aku akan menjadi penulis besar bahakan berusaha menjadai menteri pendidikan kedepan”. Semoga!
Nulis…nulis dan menulis. Sepanjang perjalanan dalam angkot aku hanya melamun dan termenung, ada benarnya juga pernyataan apip. ” sering aku menulis tapi tidak ada perubahan, seharusnya setelah selesai menulis aku berharap pada perubahan bukan pada pendapatan”. Oh terima kasih Apip atas nasihatmu yang baik dan akan aku ingat selalu kematian!.
Angkot terus melaju dengan cepat, cepat sekali seolah-olah ada yang lagi dikejar. ”Ada penumpang didepan, pikirku!”. Sekelibat dalam angkot yang sedang melaju dengan cepat kulihat teman perempuan sekelasku. ”yah… itu Isty, teman dekatku bahkan dekat sekali bagiku. Tapi entahlah karena belum tentu baginya kalau aku ini bisa dikatakan dekat!” yah itu memang benar. Oooh..Isty andai kau tahu rasa ini. ”Aku sendiri tak mengerti dengan rasa ini, apa mungkin aku merasakan syindrom akut jatuh cinta”. Walaupun kamu sudah ada yang punya, itu bukan penghalang besar bagiku. Tapi aku tidak ada nyali untuk menyatakan rasa ini, aku sadar diri aku hanyalah anak desa yang jauh-jauh datang ke kampus untuk menimba ilmu bukan untuk menimba cinta. Nyalikupun ciut bila dibandingkan dengan pasanganmu sekarang yang bergelimang harta.
Kupenggal saja rasa ini hidup-hidup, kadang dalam hatiku kembali bertanya kepada siapakah tuhan menciptkan rasa cinta? Apa berhak dan pantas aku merasakan jatuh cinta sementara aku menyaksikan bagaimana romantika orang jatuh cinta mulai dari makan di restaurant, telepon-teleponan, ketemuan tiap hari hingga antar jemput kemanapun ”tuan putri” pergi. Mungkin aku keterlaluan jika tetap mempertahankan perasaan ini dan sekali lagi aku hanya ingin menimba ilmu bukan menimba cinta.
Aku terkantuk-kantuk didalam angkot. Dan Braak! Mobil terantuk keras bertabrakan dengan truk. Astaghfirullah, aku kaget dan terjaga mendengar teriakan dari penumpang lain. Dadaku terasa sesak! Posisiku memang berada didepan. ”Ya Allah untuk kesekian kalinya aku hanya bisa pasrah. Sekedar bernafas saja….ya Allah ampuni dosa-dosaku”. Inikah perjalanan menuju kematian!.
Aku masih tak bisa mempercayai peristiwa yang saya jalani sekarang, inikah takdirku? Dan mungkinkah aku bisa menghindari takdir, ”Cara kematian inikah yang akan kujalani? Aku pasrah, seperti apapun bentuknya akun ingin mati dengan tersenyum. Ampuni dosa-dosaku ya Allah”. Aku semakin susah untuk bernafas, aku ingin mengerakan badan mencari posisi yang nyaman dan indah menjelang ajalku. Susah! Kini yang kurasakan hanya sakit didada, ”0h…sakit didada samakah rasanya dengan sakit hati? Pikirku, jika aku berani menyatakan rasa ini kepada isty dan kemudian ditolak”. Oooooh tidak.
Dalam suasana sekarang aku hanya bisa merenungi nasib. Sesekali aku mendengar kalimat dan teriakan Inna Lillahi Wa Inna Ilahi Rojiun! Tolong-tolong! Serta riuhnya warga sekitar yang menolong kami? ”kenapa mereka begitu perhatian, padahal mereka tidak kenal aku. Aku bukan penulis kenamaan”.
Aku tersenyum terharu seolah-olah kematian begitu dekat dengan saya dan terkadang berbicara kematian membuat kita sepenuhnya menghargai arti hidup.
Ya Allah aku pasrah, aku menyerah, nafasku semakin suasah. Aku ingin gerak! ganti posisi! Aku ingin merogoh kantong kanan celanaku, ada sesuatu yang inginku ambil. Bukan ongkos, walau sudah sampai dijalan Kartini. Hand phone..yah! hand phone..! aku ingin menghubungi keluargaku. Tapi, susah! Sakit! Kini aku hanya bisa pasrah! Dan ikhlas! !. “Oh..tahukah mereka bahwa aku tengah menghadapi maaslah, tahukah mereka hidupku kini berada di ujung tanduk”. Ema, Abah, semuanya maafkan aku. Sungguh berdosa aku membuat mereka merana, karena yang mereka tahu aku sedang belajar dikampus bukan di Mitra Dialog, yang mereka tahu posisiku di Perjuangan bukan di Kartini. “Ya tuhan aku bahkan belum sempat meminta maaf padanya, aku terlambat! Aku durhaka!”.
Sepi mulai menyungkup.
Aku tidak bernafas dan tentu biru kaku, semuanya menangis menghantar kepergianku. ”Aku sudah mati saat pendidikan di negeri ini mati suri bersamaan dengan cintaku kepada Isty”.

lapindo (104)

Categories: ADA SEMUA, CERPEN
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.