Arsip

Archive for the ‘OPINI’ Category

Sekolah Bukan Wilayah Sakral

21 Januari 2011 Tinggalkan Komentar

Apakah anda pernah sekolah?, lantas apa yang bisa di gambarakan tentang sekolah. Kita sepakati saja, bahwa sekolah adalah tempat kita belajar menambah ilmu pengetahuan dan wawasan dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Serta bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada tuhan yang maha esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan Read more…

Categories: ADA SEMUA, OPINI

Pahlawan Tanpa Tanda Jasa Mulai Mengeluh

21 Januari 2011 Tinggalkan Komentar

Berbicara mengenai dunia pendidikan memang tidak akan pernah mencapai titik final atau habis dan menemui akhir cerita, karena pendidikan memang merupakan salah satu topik bahasan yang permasalahannya aktual untuk diperbicangkan, selain itu humanistik pada setiap waktu dan tempat yang berbeda sekalipun. Read more…

Categories: ADA SEMUA, OPINI

Tahun Ajaran Baru dan Nasib Guru

21 Januari 2011 Tinggalkan Komentar

Euphoria tahun ajaran baru sekolah menggema di seantero negeri. Pernak-pernik perlengkapan sekolah ramai diburu dan berjajar di tiap pasar serta toko. Orang tua hilir mudik dan ramai berbondong-bondong mendaftarkan anaknya untuk masuk sekolah. Tidak ketinggalan sekolah-sekolah dan para pahlawan tanpa tanda jasa turut andil dan menyibukan diri dengan mempromosikan sekolah Read more…

Categories: ADA SEMUA, OPINI

Ujian Nasional; Menguji Kompetensi Siswa dan Guru

9 Mei 2010 1 komentar

Hasil Ujian Nasional tingkat SMA sederajat dan SMP sederajat tahun ini mengejutkan. Persentase kelulusan melorot dibanding tahun sebelumnya. Dunia pendidikan sedang didera keterpurukan, kemampuan dan kejiwaan siswa dipertaruhkan dengan predikat lulus atau harus mengulang. Profesionalisme guru pun diperdebatkan.
Banyak yang beranggapan bahwa kinerja pendidikan suatu negara bisa diclaim baik apabila output atau siswanya memiliki prestasi yang baik. Tidak keliru pula kalau banyak yang beranggapan prestasi siswa bergantung pada profesionalisme guru. Semakin profesional guru, semakin bagus pula Read more…

Categories: ADA SEMUA, OPINI

Menelanjangi Bupati Cirebon

Menelanjangi Bupati Cirebon; Kisah Inspiratif dan Edukatif,
Satu Dekade Kang Dedi Bersama Rakyat Cirebon
Oleh Subhan, S.Pd.I

Dedi Supardi, Bupati Kabupaten Cirebon yang sudah menjabat dua periode berturut-turut, kini “Ditelanjangi” oleh keluarga, senior, sahabat, pejabat dan tokoh-tokoh lain. Dedi yang pada awalnya khawatir pun hanya bisa pasrah, ketika kisah hidup dan kiprahnya sebagai abdi masyarakat diumbar dimuka umum. Kini perjalanan hidupnya tertulis dan mengabadi Dalam buku yang berjudul; Satu Dekade Kang Dedi Bersama Rakyat Cirebon. Buku ini ditulis, karena yang tertulis akan mengabadi, dan yang terucap akan berlalu bersama angin.
Penulis mengawali tulisan dengan menceritakan kisah hidup Dedi Supardi sebagai anak seorang janda, Read more…

Categories: ADA SEMUA, OPINI

Ketika Sekolah Berubah Menjadi Penjara

7 Mei 2010 1 komentar

Apakah anda pernah masuk penjara?, Kebetulan saya pernah masuk penjara. Dan jika ingatan saya tidak berkhianat, sudah dua kali, saya keluar masuk bui. Dalam prespektif pribadi, penjara itu membosankan dan sedikit menakutkan. Itu dahulu, zaman saya menjadi mahasiswa, saat kali pertama saya masuk penjara. Kalau toh sekarang tersiar kabar, ada penjara yang berpendingin ruangan, dilengkapi dengan ranjang empuk, yang tak ubahnya dengan hotel berbintang. Lantas, apakah sekarang anda ingin tinggal di dalam penjara?. Read more…

Categories: ADA SEMUA, OPINI

Memperingati dan Merefleksi Pendidikan

7 Mei 2010 1 komentar

Kalau kita peduli terhadap dunia pendidikan, tentu kita tahu siapa Raden Mas Soewardi Soerjaningrat. “Apa anda tahu siapa Raden Mas Soewardi Soerjaningrat?”. Ia lahir di Yogyakarta, 02 Mei 1889. Ia adalah aktivis pergerakan kemerdekaan Indonesia, kolumnis, politisi, dan pelopor pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia dari zaman penjajahan Belanda. Ia adalah pendiri Perguruan Taman Siswa, suatu lembaga pendidikan yang memberikan kesempatan bagi para pribumi jelata untuk bisa memperoleh hak pendidikan seperti halnya para priyayi maupun Read more…

Categories: ADA SEMUA, OPINI

Ingin Nge-Blog Lagi

UDAH LAMA JUGA GAK MAEN BLOG. KANGENNNN
TAPI BLUM DIKASI WAKTU LUANG UNTUK BERSENTUHAN DENGAN NOTE BOOK. HHEE. ADA YANG MAU BANTUIN GAK

Categories: ADA SEMUA, OPINI

Pahlawan Tanpa Tanda Jasa Mulai Mengeluh

4 Januari 2010 Tinggalkan Komentar

Pahlawan Tanpa Tanda Jasa Mulai Mengeluh

Oleh Subhan

Berbicara mengenai dunia pendidikan memang tidak akan pernah mencapai titik final atau habis dan menemui akhir cerita, karena pendidikan memang merupakan salah satu topik bahasan yang permasalahannya aktual untuk diperbicangkan, selain itu humanistik pada setiap waktu dan tempat yang berbeda sekalipun.

Kini wacananya pun mulai beragam dan hangat diperbincangkan, mulai dari sekolah gratis padahal masih bayar, pro kontra Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan (BHP), nasib guru honorer dan guru bantu di daerah, dan masih banyak lagi keadaan dan permasalahan yang ada pada dunia pendidikan di indonesia sekarang, yang memang sedikit rumit untuk diselesaikan dalam waktu singkat dan tepat.

Semuanya menarik untuk diurai dan diteliti lebih dalam agar cepat diatasi. Tapi, apa jadinya kalau guru atau pahlawan tanpa tanda jasa mulai mengeluh, bisa jadi seni mengajar para guru tidak sepenuh hati dan sebuah keterpaksaan, honor atau gaji yang rendah mengakibatkan tugas mencerdaskan bangsa tidak sepenuh usaha dari pikiran, jiwa dan raga sang pahlawan tanpa tanda jasa.

Selain itu saya sependapat dengan Ki Supriyoko, pada Kompas (28/07/2009) dalam tulisan pembunuhan sekolah swasta, Ki Supriyoko menyatakan bahwa kebijakan pemerintah yang gencar di sosialisasikan tentang sekolah gratis mengakibatkan banyak sekolah swasta yang gulung tikar, karena banyak masyarakat yang menyerbu sekolah gratis.

Kalau sudah begini, guru pun semangatnya kian pudar. Tidak ada gairah untuk mencerdaskan bangsa dengan sepenuh hati, penghasilan yang rendah menjadikan profesi yang satu ini bisa jadi sepi peminat. Kalau toh banyak yang bergelar sarjana dan magister pendidikan tapi merupakan pekerjaan yang terpaksa untuk dijalani, karena tidak menjanjikan kesejahteraan dalam hidup, padahal tanpa disadari kita butuh guru yang benar-benar peduli dengan pendidikan dan rela mengabdi pada dunia pendidikan.

Bukan guru yang mengeluh, seperti yang diberitakan Kompas (25/07/2009) Pendidikan gratis, insentif guru berkurang. Ketua Umum Federasi Guru Independen Indonesia (FGII) Suparman, mengatakan keluhan-keluhan berkurangnya honor tambahan mulai terdengar dari para guru setelah gembar-gembor pendidikan gratis oleh pemerintah dan larangan pungutan ke masyarakat.

Apalagi

Categories: ADA SEMUA, OPINI

Kemana Arah Pendidikan Kita

4 Januari 2010 Tinggalkan Komentar

Kemana Arah Pendidikan Kita

Oleh Subhan

 

Ada yang menggelitik pikiran saya, saat menghadiri Seminar Nasional bertemakan Pengembangan Kompetensi Guru Dan Tenaga Kependidikan MIPA (Matematika dan IPA) Dalam Menghadapi Sertifikasi Guru Tahun 2008. pada dasarnya saya sangat tertarik dengan acara tersebut bukan karena yang mengadakan adalah program studi saya atau memang dihadiri oleh pemateri yang kompeten menurut saya. Tapi, seperti ada rasa ingin tahu yang mendalam mengenai kemana arah pendidikan kita.

Saya berusaha untuk tidak diam, menanggapi realitas keterpurukan pendidikan yang sudah digembor-gemborkan banyak orang. Kiranya juga kita semua tidak perlu takut siapa dia dan sibuk mencari siapa yang salah, karena kalau polemik mencari siapa yang salah ini dibiarkan, hanya akan menghabis-habiskan tenaga yang berujung seperti teka-teki anak-anak: “mana yang lebih dahulu antara ayam dan telur”.

Perdebatan yang tak berujung dan tidak berpangkal. Mungkin karena terlalu banyak yang salah atau bahkan mungkin dengan tidak disadari kita juga termasuk salah satu dari golongan yang bersalah. Sudahlah! Kita sudah terlalu lelah bergunjing, saling menggurui, saling mencurigai dan saling menyalahkan.

Walaupun kehadiran saya diseminar tersebut sebagai salah satu panitia pembantu. Tapi, saya merasa puas dan bangga karena bisa hadir dan ikut berkumpul ditengan-tengah golongan masyarakat terdidik dan orang-orang yang berpengaruh besar dalam menentukan keberhasilan dunia pendidikan.

Entah kenapa saya termasuk orang yang masih belum sepakat dengan adanya pemberlakuan sertifikasi guru. Memang benar sistem ini memberikan kontribusi dalam  membangun mutu kualitas pendidikan. Tapi bukankah kita sudah sangat kenyang dengan fenomena seminar, lokakarya, dam studi banding tentang pendidikan yang tak henti-hentinya dilakukan oleh semua elemen dan strata pendidikan.

Akan tetapi seringkali kegiatan dan wacana yang sangat baik ini masih saja berhenti sebatas konsep atau catatan diatas kertas atau sebatas kegiatan rutin sekedar menggugurkan jadwal yang jauh-jauh hari telah diagendakan. Pada akhirnya hanya berharap mendapatkan selembar sertifikat bertaraf nasional bahkan internasional untuk kepentingan pribadi.

Sebaliknya, kita terlalu sedikit melihat tindakan nyata dan kesungguhan untuk mulai mewujudkan pendidikan yang berdaya, berkeadaban dan berkeadilan. Bukankah yang dibutuhkan negara sekarang ini adalah tindakan dan upaya konkrit dari hasil seminar, lokakarya dan studi banding, meski sederhana dan sekecil apapun.

Ternyata fenomena menjamurnya kegiatan seminar, lokakarya dan studi banding, belum bisa menjawab persoalan riil pendidikan. Bahkan, memunculkan masalah baru dengan berharap selembar sertifikat untuk kepentingan pribadi. Sehingga sistem pendidikan yang mengklaim diri berkualitas dan modern itu telah berubah menjadi tenaga kependidikan kaum elitis dan ekslusif karena hanya terjangkau oleh kelompok masyarakat tertentu.

Bukankah suatu ironi dan fenomena baru ketika demi memperoleh sertifikat dan memenuhi portofolio, guru mengabaikan tugas utamanya untuk mengajar disekolah. Walaupun dengan begitu dengan pemberlakuan seritifikasi guru ini diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan hidup guru dan mampu menyediakan guru profesinal untuk mendukung kemajuan pndidikan bangsa. Semoga terwujud!

Zamroni berkata (Kompas, 15 September 2007) selaku Ditjen Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga kependidikan, Depdikns. “Bahwa guru-guru dalam masa jabatan yang harus mengikuti uji sertifikasi jangan sampai mengada-ada apa yang tidak ada, upaya memenuhi penilaian portofolio. Serahkan piagam atau penghargaan yang ada saja dan jangan hanya terjebak penuhi portofolio”.

Agus Sudibyo, Deputi Direktur yayasan SET dalam tulisanya yang berjudul Sertifikasi Guru dan Keterbuakaan Informasi, mengungkapakan bahwa program sertifikasi guru yang dicanangkan pemerintah merujuk undang-undang nomor 14 tahun 2005, tujuan pragram ini sungguh mulia yaitu meningkatkan keejahteraan para guru yang akan mendapatkan tunjangan profesi sebsar satu kali gaji pokok dengan syarat lolos program sertifikasi guru.

Namun persoalanya menjadi kompleks ketika program sertifikasi guru yang dilakukan dalam sekala nasional, menjangkau 2,3 juta tenaga guru menggunakan dana publik 3,45 triliun. Hanya sebatas efektif untuk menigkatkan kesejahteraan guru yang mendapatkan tunjangan Rp 1,5 juta. Tapi, tidak benar-benar efektif meningkatkan kualitas pendidikan.

Lebih buruk lagi, proyek mulia melahirkan kemaslahatan buat komunitas guru, justru menjadi ajang korupsi dan penyelewengan baru. Setelah ada korupsi KPU, korupsi Bulogate mungkin bakalan muncul fenomena baru dengan korusi proyek sertifikasi guru. Satu hal yang selalu terjadi manakala suatu proyek dilaksanakan dalam proses yang tertutup, penuh kerahasiaandan tanpa mempertimbangkan partisipasi publik.

Bukankah hasil kajian ICW menunjukan sejauh ini mekanisme penentuan instansi pelaksanaan proyek sertifikas kurang transparan dan cenderung tertutup. ICW mengkhawatirkan ketertutupan ini membuka peluang kolusi antara perguruan tinggi dan departemen pendidikan nsional dalam proses penentuan penyelenggara sertifikasi. Ketertutupan ini juga mengondisikan terjadi tender suap oleh pejabat terkait dengan memberikan peluag lebih besar kepada perguruan tinggi yang mampu menyediakan sejumlah dana untuk menangani tender proyek sertifikasi (Kompas, 7 September 2007)

Kembli lagi ketika pikiran saya tergelitik,  sontak sesaat saya tertawa dalam hati, karena menyaksikan kehebohan masyrakat yang berpengaruh besar dala dunia pendidikan ketika mengikuti seminar pendidikan bertaraf nasional. Betapa tidak banyaknya antusiasme guru membuat saya merasa bangga dan optimis bahwa pendidikan yang baik dan bermutu akan mampu terwujud.

Tapi kekhawatiran juga muncul manakala ada beberapa peserta seminar yang tidak mengikuti jalannya kegiatan sampai selesai. Hingga muncul pertanyaan ringan dibenak pikiran saya, sebenarnya apa yang mereka inginkan dengan mengikuti seminar ini? Apakah mereka hanya berharap selembar sertifikat untuk memenuhi portofolio atau mereka benar-benar sangat peduli akan dunia pendidikan.

Sepertinya mereka harus disadarkan bahwa profesi menjadi guru itu bukan sekedar meningkatkan kesejahteraan, berharap dapat tunjangan dan kepentingan pribadi lainya. Tapi, juga mempunyai kewajiban untuk mengajar anak didiknya sehingga bisa mampumengantarkan siswa menjadi generasi penerus dambaan yang mampu mengisi dan membangun negri ini.

Dengan demikian bukan berarti sertifikat itu tidak diperlukan. Seminar, lokakarya dan studi banding tidak diutamakan. Itu semua tetap dibutuhkan manakala hasil dari seminar, lokakarya dan studi banding bisa diterapkan, bukan sebatas laporan diatas kertas dan berharap selembar sertifikat untuk kepentinga pribadi. Tapi, tunjukan bukti riil dan tindakan nyatanya.

Inilah konsekuensi dan kenekatanmu menjadi guru menuntut kamu agar mampu meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan sekarang. Apapun sistem dan proses yang diterapkan, entah itu melalui seminar-seminar, lokakarya dan studi banding. Bisa tidak bisa, puas tidak puas dari hasil seminar, lokakarya dan studi banding, karena berhasilnya dunia pendidikan memang berada ditangan mereka yang peduli akan dunia pendidikan.

Walau tidak dipungkiri lagi bahwa profesi guru memang strata sosialnya bisa dikatatakan relatif rendah. Dan mungkin mampu meningkat jika program sertifikasi ini berhasil dan terus berlanjut. Tapi kiranya jika kesetaraan hidup guru meningkat wajib dibarengi juga dengan meningkatnya dunia pendidikan

Satu lagi, do’a yang wajib dipanjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa adalah ketika ada proyek baru bernama sertifkasi guru jangan sampai muncul fenomena baru yaitu korupsi sertifikasi guru. Semoga dan salam pendidikan!

 

Subhan Mahasiswa STAIN Jurusan Tarbiyah Matematika Semester V

dan Aktif di LPM FatsOeN STAIN Cirebon.

 

 

Categories: ADA SEMUA, OPINI
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.